Karanganyar — Wahai para pemirsa, saksikanlah kisah jenaka bin getir dari tanah Jatipuro, Karanganyar, tempat dimana tanda tangan bisa muncul tanpa tangan! Sungguh ajaib, Petruk sampai garuk-garuk kepala pakai cangkul.
Ceritanya, sebuah keluarga tengah mengurus warisan pusaka tanah, warisan dari orang tua yang semestinya jadi pengikat silaturahmi, malah jadi pemecah belah seperti sinetron episode 999. Si BY, salah satu anggota keluarga, merasa ada yang ganjil. Bukan ganjil angka undian, tapi ganjil perasaan: kok sertifikat sudah diproses, padahal salah satu saudaranya belum tanda tangan?
“Lha, Kulo Durung Teken, Mas!”
BY mengaku dapat kabar angin—tapi bukan angin surga—bahwa sertifikat tanahnya sudah nyelonong masuk ke BKD. Seperti kucing nyolong pindang, proses pemecahan sertifikatnya berlangsung diam-diam. Lalu, setelah diselidiki, ternyata sang kakak belum pernah menandatangani sehelai pun kertas. Ealah… tanda tangan siapa itu, Kak? Tanda tangan tuyul?
Dan siapa dalangnya? Tersebutlah nama Bambang, Camat dari Jumapolo yang katanya sih cuma “membantu”. Wah, bantu kok malah bikin bingung?
Bambang: “Aku Hanya Membantu, Bukan Membuat Tanda Tangan Siluman”
Saat ditanya wartawan—yang wajahnya penuh tanya dan sedikit heran—Pak Camat menjawab dengan jurus klasik: “Saya tidak tahu siapa yang memalsukan.” Beliau mengaku hanya membantu pengurusan karena ini hibah dari orang tua ke anak-anaknya.
Tapi setelah ditegur oleh anggota dewan—yang mungkin kebetulan baru selesai nonton KPK TV—Pak Camat langsung cabut berkas dan pulangkan semuanya. Coba dari awal tak usah ikut-ikutan, kan aman damai sentosa.
Petruk Bilang: “Camat Kok Nggak Tamat?”
Kawan, tanah itu bukan seperti gorengan yang bisa dibagi-bagi sembarangan. Kalau warisan diurus tanpa kesepakatan, bisa bikin keluarga bubar seperti boyband pasca kontrak habis. Dan kalau pejabat bantu-bantu tapi malah tanpa cek-ricek, bisa-bisa disebut: “bantuan beracun”.
Sindiran Manis ala Petruk:
Bayangkan, kalau tanda tangan bisa nongol sendiri, esok lusa mungkin kita bakal lihat surat nikah muncul tanpa resepsi. Atau surat pengunduran diri muncul di kantor padahal yang bersangkutan sedang tidur siang!
Petruk tak ingin menuduh siapa-siapa, tapi berharap aparat dan rakyat belajar dari ini: jangan main-main dengan tanda tangan, karena itu bukan sekadar goresan, tapi harga diri dan hak orang lain. Dan kepada para Camat, Lurah, hingga RT, jangan karena seragam lantas jadi semena-mena. Ingat, yang seragam itu tentara, bukan kelakuan.
Penutup:
Kini keluarga BY sedang berupaya menempuh jalan damai. Mediasi adalah niat baik. Tapi, Petruk berharap mediasi ini tidak diwarnai lagi dengan “tanda tangan misterius” atau “berkas kabur sebelum waktunya”.
Karena kalau kasus seperti ini dibiarkan, jangan salahkan rakyat kalau nanti mereka lebih percaya dukun daripada dokumen. Dan kalau pejabat tak bisa dipercaya, Petruk usul: ganti saja dengan kambing, minimal dia jujur kalau mau makan rumput.
Salam dari Petruk: Jangan biarkan keadilan jadi korban tawa, meski kita tertawa demi sadar.




















