Klaten, garengpetruk.com – Jangan salah, lur! Kalau biasanya halal bihalal cuma ajang salaman sambil nginceng opor ayam, yang ini beda. Sekitar 2.700 guru PPPK SD dan SMP se-Kabupaten Klaten berkumpul di Graha Bung Karno (yang sayangnya bukan di Jakarta), untuk acara Halal Bihalal penuh semangat nasionalis, tapi tetap bersahaja—tanpa nasi kotak berlapis tiga.
Ketua Paguyuban ASN PPPK Klaten, Pak Sriyanto—yang kalau dilihat-lihat cocok jadi motivator dadakan—bilang, acara ini bukan cuma soal maaf-maafan karena lupa absen di SIMPKB, tapi juga soal membangun kekompakan, kolaborasi, dan meningkatkan kualitas kerja para guru PPPK.

Soliditas: Bukan Sekadar Kompak Pakai Batik
“Kita ini ASN PPPK, bukan pasukan tempur, tapi kalau nggak solid ya bisa ambyar juga,” ujar Sriyanto sambil senyum penuh filosofi. Makanya, beliau mewanti-wanti pentingnya menjaga attitude, jangan mentang-mentang sudah ASN malah lupa nulis RPP.
Untuk itu, Paguyuban punya jurus andalan: 3T Sakti. Jangan salah sangka, ini bukan Tes Tuberkulosis. Tapi:
Tertib Waktu – Jangan datang telat tapi pulang cepat.
Tertib Berpakaian – Seragam rapi, bukan gaya fashion rebel.
Tertib Administrasi – Jangan lupa isi raport daring, walau sinyal kadang suka ngambek.
Pak Bupati Turun Gunung (Tapi Naik Podium)
Acara ini makin semarak karena dihadiri langsung oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Iswoyo—nama yang kalau dipanggil lengkap bisa bikin guru olahraga ngos-ngosan.
Beliau menyampaikan pidato dengan gaya semangat 45, menyebut para guru sebagai garda terdepan menuju Indonesia Emas 2045. Ya, meskipun kadang guru masih garda belakang saat rebutan sertifikasi.
Pak Bupati juga ngajak para guru untuk kerja bareng, jangan cuma jago di grup WhatsApp, tapi mandul dalam aksi. Katanya, “Klaten butuh guru yang tak hanya pintar ngajar, tapi juga cakap bersinergi.” Wah, sinergi-nya keren, lur. Cocok buat caption IG.

Dari Silaturahmi ke Aksi Nyata
Acara halal bihalal ini akhirnya bukan sekadar ajang kangen-kangenan antar rekan guru yang biasanya cuma ketemu di pelatihan daring yang penuh drama zoom. Tapi juga jadi momentum mengingatkan: jadi ASN PPPK itu bukan cuma status, tapi tanggung jawab yang nempel sampai jam pulang sekolah.
Petruk Nyelutuk…
Di tengah gegap gempita acara, Petruk (yang entah datang dari mana) tiba-tiba naik ke panggung dan berseru:
“Guru PPPK itu bagai lilin… tapi jangan sampai meleleh karena kelelahan administrasi!”
Penonton pun tertawa. Tapi diam-diam merasa tertohok.
—
Penutup
Semoga dari halal bihalal ini lahir semangat baru: guru yang solid, tertib, dan tetap semangat walau gaji masih dicicil. Dan ingat, lur… PPPK bukan singkatan dari Pergi Pagi Pulang Kere. Tapi Pahlawan Pendidikan Pengubah Kehidupan.
Merdeka belajar, merdeka berpikir, tapi jangan merdeka dari tanggung jawab!




















