Klaten, 23 Maret 2025 – Ketika sebagian orang sibuk memikirkan kapan THR cair dan menu buka puasa apa yang paling hits, umat Hindu di Klaten justru khusyuk menjalankan Upacara Melasti. Upacara ini bukan sekadar ritual, tapi juga ajang untuk membersihkan diri—baik secara lahir, batin, maupun pikiran yang mungkin sudah terlalu penuh dengan gosip dan drama kehidupan.
Bertempat di Umbul Geneng Klaten, ribuan umat Hindu dari berbagai Pura berkumpul sejak pagi untuk mengambil Tirta Amarta—air kehidupan yang nantinya dipercikkan di rumah dan Pura masing-masing. Air suci ini bukan hanya simbol penyucian, tapi juga pengingat bahwa kadang, yang bikin hidup keruh bukan air kotor, melainkan hati dan pikiran yang terlalu banyak iri dengki.

Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Klaten, Suparman, Nyepi tahun ini mengusung tema “Manasewa, Madawasewa Mewujudkan Indonesia Emas 2045.” Artinya? Intinya, melayani sesama manusia adalah bagian dari bakti kepada Hyang Widhi Wasa. Alias, kalau mau Indonesia maju, ya mulai dulu dari diri sendiri—jangan sibuk nyalahin pemerintah terus!
Nyepi & Ramadan: Dua Jalan Menuju Kedamaian!
Yang menarik, Nyepi tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadan. Artinya, umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian—tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja, dan tidak bersenang-senang—sementara umat Islam menjalankan puasa—menahan lapar, haus, dan emosi saat buka puasa telat datang.
Ini momen yang keren banget! Dua agama besar di Indonesia sama-sama sedang dalam mode refleksi dan pengendalian diri. Kalau umat Hindu dan Islam bisa khusyuk menahan diri, masa iya kita yang lain masih hobi perang komentar di media sosial cuma gara-gara beda pendapat?
Suparman pun mengajak seluruh umat beragama untuk saling menghormati. “Moderasi beragama itu penting. Jangan sampai kita sibuk membela Tuhan, tapi lupa berbuat baik kepada sesama manusia,” ujarnya dengan bijak.
Dari Melasti ke Tawur Agung: Ritual Berlanjut, Hidup Tetap Jalan!
Setelah Melasti, umat Hindu Klaten masih punya agenda penting: Tawur Agung di Candi Prambanan pada 28 Maret nanti. Ini adalah ritual untuk menyeimbangkan alam semesta—semacam “reset button” buat dunia yang sudah mulai sumpek dengan polusi, kebisingan, dan orang-orang yang suka bikin gaduh.
Jadi, kalau ada yang tanya, “Kenapa sih harus ada Melasti, Tawur Agung, dan Nyepi?” Jawabannya simpel: karena manusia butuh waktu untuk introspeksi. Kadang kita sibuk banget sama urusan dunia sampai lupa nyari makna hidup. Melasti dan Nyepi adalah cara umat Hindu mengingatkan kita semua bahwa sebelum berharap dunia jadi lebih baik, kita harus mulai dari diri sendiri dulu.
Akhir Kata: Belajar dari Nyepi, Yuk Kurangi “Polusi” Hati!
Satu hal yang bisa kita pelajari dari upacara Melasti dan Nyepi: dunia ini sudah cukup bising, jangan ditambah dengan kebisingan dari hati dan pikiran kita sendiri. Jadi, mari jadikan momen ini sebagai pengingat bahwa sesekali, kita perlu diam, merenung, dan membersihkan diri dari segala hal yang tidak perlu.
Dan kalau masih ada yang bertanya, “Kenapa Nyepi harus diam-diam?” Jawabannya sederhana: karena dalam diam, kita justru bisa lebih banyak mendengar.
Selamat menyambut Nyepi bagi umat Hindu! Semoga damai selalu menyertai.
Eko Setyoatmojo/GarengPetruk



















