Klaten, GarengNews – Ana apa maneh iki, rek? Kantor Perusahaan Daerah Bank Kredit Kecamatan (PD BKK) Klaten kok ndadak tutup rapat, kaya lemari simpen rahasia negara. Ternyata, per 19 Juni 2025, operasional PD BKK Klaten resmi “ngaso disit” alias berhenti sementara. Sebabnya? Dompetnya bolong, isine tinggal angin kenceng karo janji-janji.
Dari pantauan awak redaksi Gareng Petruk di lokasi kantor BKK Klaten, Jl. Klaten – Jatinom, suasana sepi kayak warung kopi habis Lebaran. Cuma tinggal surat pengumuman tertempel gagah di kaca pintu, berlogo resmi, berbahasa halus, tapi maknanya bikin ndlosor: “Kami lagi krisis, mohon bersabar, ini ujian.”
“Ora iso operasi, amarga keuangan kritis,” tulis surat itu, yang ditandatangani direksi—entah lagi di mana para direktur sekarang, mbok meneng tengklak-tengkluk mikir solusi atau malah sibuk ngitung dosa.
Tapi tenang, pemirsa! Direksi tetap menebar harapan. Katanya, mereka bareng pemegang saham komitmen menyelesaikan masalah. Komitmen? Wah, kata itu sekarang kayak WiFi publik: semua orang bisa pakai, tapi sinyalnya lemah.
Fraud dan Janji-Janjian
Menurut Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, yang dijangkau lewat WA (zaman sekarang bupati pun balasan WA, modern tenan), PD BKK bukan murni milik Pemkab, tapi saham gedenya dipegang Provinsi Jawa Tengah. Artinya, urusan gedhe kudu diurusi wong luwih gedhe. Pemkab ya cuma bisa ngelus dada dan kirim notulen rapat.
Bupati juga ngaku, setelah ngobrol bareng direksi, terkuak bahwa fraud alias penipuan keuangan sudah terjadi jauh sebelum BKK merger. Lha kok iso? Berarti udah lama kebobolan, tapi baru ribut sekarang. Ibarat rumah bocor dari dulu, tapi baru pas atap ambruk semua pada kaget, “Lho, kok banjir?”
Nasabah Digantung Manis
Kabar baiknya (kalau ini bisa disebut kabar baik), Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, katanya sudah “bersepakat” menyelesaikan masalah ini. Bersepakat? Alhamdulillah. Tapi masyarakat nunggu bukan kesepakatan, tapi tindakan. Sebab duit tabungan ora iso dibayar pakai harapan dan rapat doang.
Bupati janji nasabah akan diperhatikan hak-haknya sesuai peraturan. Tapi netizen waras tahu, kalimat itu biasanya artinya: “Ndang daftar, trus ngenteni… mungkin tahun depan.”
Sindiran Manis ala Kopi Pahit
Gareng mikir: ngapain ada bank daerah, kalau daerah sendiri nggak kuat ngawasi? Lha wong tabungan rakyat disimpen resmi, bukan dititipke dukun. Tapi malah jadi korban sistem yang bobrok dan pengawasan yang molor.
Ibarat orang numpang tidur di hotel, eh pas bangun tahu-tahunya hotelnya dijual. Koper ilang, dompet ilang, malah disuruh nunggu hasil rapat pemilik bangunan.
Solusi atau Sekadar Sugesti?
Rakyat Klaten, utamane nasabah BKK, sekarang cuma bisa sabar dan nyimpen kuitansi. Sebab duitmu mungkin hilang, tapi harapan jangan ikut lenyap. Ingat, bangsa ini besar karena rakyatnya sabar — atau disuruh sabar terus sampek pensiun.
Gareng cuma bisa nyaranake: nek nambung, ojo mung percaya logo resmi, tapi percaya pada transparansi. Duit rakyat itu suci, ojo digawe dolanan elit politik lan mafia angka.
Catatan kaki: Jika nanti BKK bangkit lagi, Gareng usul ganti slogannya:
“PD BKK Klaten – Tabunganmu Bisa Mampir, Tapi Ora Dijamin Balik Cepet!”
Laporan langsung dari depan kantor BKK yang sepi kaya kuburan ambisi.
– Gareng Petruk, wartawan lepas dan pemantau dompet rakyat.




















