Klaten – GarengPetruk.com
Di tengah mentari yang bersinar manja dan semilir angin dari sawah belakang pendopo, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, tampil gagah mengenakan baju lurik khas Jawa. Tapi jangan salah sangka, ini bukan parade fashion etnik! Beliau jadi Inspektur Upacara Hari Lahir Pancasila, dan suaranya menggema kayak toa masjid Subuh hari: “Saatnya kita membumikan Pancasila!”
Wah, Pancasila dibumikan? Emangnya selama ini ngapung di langit?
—
“Pancasila Bukan Cuma Hafalan, Tapi Harus Jadi Tindakan!”
Dalam amanat yang dibacakan sambil menahan senyum ke kamera media, Bupati Hamenang menyampaikan pesan dari Kepala BPIP, bahwa Pancasila bukan sekadar pidato tiap 1 Juni atau mural di dinding aula kecamatan. Tapi harus jadi kompas moral, panduan hidup, dan bahan obrolan warung kopi.
> “Radikalisme, intoleransi, dan hoaks udah kayak trio macan baru. Kita harus lawan ini semua dengan nilai-nilai Pancasila,” ujar Bupati sambil memelototi rumput yang belum dipotong.

—
Upacara Serius, Tapi Warganya Ingin Praktis
Upacara berlangsung khidmat, diikuti TNI, Polri, ASN, pelajar, mahasiswa, dan juga beberapa petugas parkir yang ikutan selfie sambil hormat. Tapi setelah acara, muncul pertanyaan: Membumikan Pancasila itu gimana caranya? Pakai drone? Excavator? Atau cukup pakai niat baik?
—
Komentar Warga: Pancasila Dibumikan, Tapi Jangan Ditimbun!
Pak Marjuki, pedagang cilok di dekat pendopo, nyeletuk dengan gaya khas rakyat jelata penuh logika jalanan:
> “Pancasila dibumikan itu bagus, Pak. Tapi jangan dibumikan trus ditimbun. Harus dirawat, disiram, biar tumbuh jadi budaya, bukan cuma jargon di baliho kampanye!”
Sementara Bu Retno, guru SD yang sudah 15 tahun ngajarin “Pancasila adalah dasar negara kita…”, berharap nilai Pancasila nggak hanya muncul di ujian, tapi juga di sikap hidup sehari-hari.
> “Anak-anak hafal Pancasila, tapi kalo rebutan gorengan tetep adu jotos. Ini harus dibenahi,” tegas Bu Retno sambil mengelus dada dan naskah RPP.
—
Redaksi GarengPetruk.com Bilang:
> “Membumikan Pancasila bukan proyek satu hari. Ini kerja seumur hidup. Dari RT sampe DPR. Dari ibu-ibu PKK sampe bapak-bapak WA grup.”
—
Gareng Ngomong:
> “Pancasila itu kayak sandal jepit, sederhana tapi dibutuhkan semua orang. Tapi sayangnya, kadang cuma dipakai kalo mau masuk ruang resmi. Sisanya? Disimpen di rak ideologi.”
—
Penutup dari Petruk:
Klaten boleh kecil di peta dunia, tapi punya misi besar: jadi kabupaten yang membumikan Pancasila dengan gotong royong, bukan cuma gotong spanduk.
Upacara boleh usai, tapi kerja menjaga Pancasila baru dimulai.
Ayo, Klaten! Jangan cuma hafal sila, tapi juga amalkan, guyubkan, dan jadikan kehidupan sehari-hari penuh toleransi dan welas asih.
Salam Pancasila dari GarengPetruk.com
🖊️ “Karena sila pertama bukan hanya untuk khutbah, tapi untuk menghapus benci dan prasangka.”




















