Minggu pagi, tanggal 18 Mei, udara di sekitar Jamed Resto mendadak terasa seperti langit habis kena gambar pelangi. Warna-warni cerah menyeruak di sana-sini, bukan karena langit bocor, tapi karena Lomba Mewarnai Piala Bupati resmi digelar! Anak-anak PAUD, TK umum, dan anak-anak difabel tumplek blek di lokasi, siap bertarung pakai krayon dan spidol, bukan senjata tajam.
Diselenggarakan oleh Jamed Resto dan Sanggar Seni Attaya, acara ini bukan cuma soal siapa yang paling jago mewarnai bunga jadi biru dan matahari jadi pink, tapi juga tentang menumbuhkan kreativitas, keberanian, dan – kata panitianya – “pendidikan di luar kelas”. Ririn, Ketua Panitia, bilang, “Dengan diadakan lomba ini, kita bisa tahu bakat anak dan mereka bisa tahu pendidikan di luar kelas itu seperti apa.” Wah, ini baru keren, sekolah tanpa PR!
Tak hanya peserta yang semangat, orang tua juga kompak, bahkan sampai jadi suporter garis keras. Ada yang sampai bawa kipas, termos teh manis, bahkan strategi ala pelatih sepak bola: “Nak, kasih gradasi di situ! Bikin shading yang dramatis!”
Target peserta awalnya 100, eh ternyata membeludak sampai 150! Waduh, ini mah bukan lomba mewarnai, tapi unjuk rasa kreativitas nasional mini.
Sindiran Tipis Setipis Pensil Warna
Lucunya, dari sekian banyak lomba di negeri ini, yang difabel seringkali cuma dijadikan pelengkap. Tapi kali ini beda, para penyandang disabilitas justru disambut dan diberi panggung yang setara. Tepuk tangan dulu buat panitia! Tapi yaaa, tetap aja kita bisikkan sindiran kecil ke telinga pengambil kebijakan, “Pak Bupati, ini acara keren loh, jangan cuma datang pas serahkan piala, tapi support dong dari awal. Jangan sampe anak-anak mewarnai pakai krayon utang.”

Dan soal kreativitas, ini penting banget, lho! Di tengah kurikulum yang kadang bikin anak lebih kenal rumus fisika daripada dirinya sendiri, acara seperti ini adalah nafas segar. Apalagi buat anak-anak difabel yang sering dicap “nggak bisa apa-apa”, padahal mereka cuma butuh ruang, bukan kasihan.
Pewarna Bukan Sembarang Alat, Tapi Senjata Masa Depan!
Lomba ini ibarat pernyataan: “Hei dunia, masa depan itu harus penuh warna!” Bukan hanya satu warna mayoritas, bukan pula yang warnanya tergantung sponsor politik. Tapi warna yang lahir dari kebebasan berekspresi anak-anak kita.
Jadi, buat Pak Bupati dan para pejabat lain yang hadir dan foto-foto di panggung: jangan cuma senyum dan pulang. Mari bantu biar kegiatan seperti ini nggak cuma jadi lomba tahunan, tapi jadi kebiasaan harian. Karena masa depan bangsa bukan cuma ditentukan dari UN, tapi juga dari warna yang mereka berani pilih untuk melukis dunia.
Sekian liputan dari saya, Gareng Petruk, yang masih belum bisa bedain warna fanta sama magenta. Tapi yakin satu hal: masa depan cerah itu harus dimulai dari kertas gambar anak-anak kita.
#MewarnaiBukanCumaHobi #PewarnaLebihBerhargaDariJanjiPolisiTidur




















