KH. Syamsuddin Asyrofi Dorong Desa Sadar Kerukunan Berbasis Budaya di Klaten
KLATEN, 28 Mei 2025 – Di tengah makin ramainya konten nyinyir di media sosial, dan makin sunyinya obrolan tetangga yang dulu suka pinjam cabai, muncul secercah harapan dari Kelurahan Jatinom, Klaten. Kali ini bukan soal bansos, bukan juga lomba gaple RT, tapi soal kerukunan umat beragama… berbasis budaya!
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten, KH. Syamsuddin Asyrofi, dengan suara lembut dan tutur kata bijak ala dalang kondang, menyampaikan hal penting dalam pertemuan tokoh lintas agama, ormas keagamaan, dan seniman lokal:
> “Kerukunan itu nggak bisa cuma diomongin tiap 1 Januari terus hilang kayak mantan pas lebaran. Harus dijaga. Salah satunya lewat budaya lokal yang kita punya.”

🎨 Budaya Lokal: Dari Wayang Sampai Wedang Jahe
Menurut beliau, budaya bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan. Daripada ribut di medsos debat halal-haram sambil nyumpahin sesama netizen, lebih baik ikut nonton kesenian tayub sambil ngopi bareng. Dari situ bisa muncul empati dan saling menghormati.
> “Kesenian tradisional itu bukan cuma hiburan, tapi juga pengikat emosi warga. Saling sapa, saling guyub, lama-lama saling jodoh juga bisa,” ujar Kiai sambil senyum manis ala host pengajian subuh.
🙌 Semua Tokoh Angkat Suara… dan Angkat Semangat
Ketua PCM Jatinom, H. Ismadi, dengan mantap mendukung gagasan ini:
> “Toleransi itu bukan hanya soal toleran di mulut, tapi juga mau duduk bareng walau beda surban dan sarung. Budaya lokal jadi penenang jiwa yang bikin kita inget kalau kita ini satu kampung, bukan satu kolom komentar!”
🎭 Budaya Jadi Obat, Bukan Sekadar Obrolan
Ketua PKUB Jatinom, H. Kamtono, juga terlihat semangat:
> “Saya senang budaya diangkat jadi perekat, bukan cuma jadi pajangan di lomba 17-an. Kalau tumpengan bisa bikin orang rebutan ayam, kenapa nggak bisa juga bikin orang rukun?”
🎨 Seniman Juga Bersuara, Bukan Cuma Bersenandung
Ketua Dewan Kesenian Jatinom, Hariyadi, dan Ketua Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG), Daryanto, sama-sama sepakat: budaya bukan cuma untuk dilestarikan, tapi juga dijadikan alat untuk ngopeni kerukunan.
> “Jangan cuma bilang ‘ini penting’ terus selesai di rapat. Budaya itu butuh ekosistem, bukan sekadar seremoni. Kalau budaya cuma dijadikan tema pidato, ya nanti rakyat cuma dapat brosur!” tegas Daryanto sambil merapikan blankon.
📌 Catatan Redaksi Gareng Petruk:
Kita ini bangsa warisan nenek moyang yang bisa nyanyi macapat sambil masak sayur lodeh. Jangan sampai budaya lokal kita kalah pamor sama jogetan TikTok. Kerukunan itu harus dibangun pakai hati, ditumbuhkan lewat seni, dan dijaga bareng-bareng—dari kiai sampai ketua RT, dari pemain gamelan sampai pemuda Karang Taruna.




















