Klaten —
Kabar gembira buat para pengendara yang pernah merasa seakan naik roller coaster gratis tiap lewat depan Pemda Klaten! Empat polisi tidur yang jejer rapat kayak pasukan upacara itu akhirnya pensiun dini alias dibongkar, setelah jadi bahan gibah nasional.
Menurut pantauan Gareng Petruk Senin pagi, suasana di TKP (Tempat Kecelakaan Polisi tidur) tampak meriah. Bukan karena ada hajatan, tapi karena pekerja dari dinas sibuk mengeruk dan membereskan para polisi tidur yang sebelumnya berdinas dengan semangat menghadang ban.
“Pembongkaran kemarin hari Minggu, Mas, tapi karena Minggu itu harinya keluarga, ya nggak sempet kelar. Makanya lanjut Senin, sekalian olahraga pagi,” ujar Tri Siwidodo, Kabid Bina Marga Klaten, sambil mengusap keringat yang lebih deras dari aliran info proyek.
Ternyata eh ternyata, empat polisi tidur itu bukan sembarangan hadir lho. Mereka datang atas undangan warga. Katanya, biar nggak ada lagi motor ngebut kayak Valentino Rossi di jalur lambat.
“Aslinya sudah ada polisi tidur kecil, kayak camilan. Terus warga usul dibesarin biar lebih mantul, eh tapi malah kebablasan, jadinya kayak jebakan Batman,” lanjut Pak Tri.

Maksud hati mau ngurangi kecelakaan, apa daya malah bikin pengendara jungkir balik tanpa karpet. Sejumlah video dan curhatan warga pun berseliweran di dunia maya, memviralkan para polisi tidur ini macam seleb TikTok.
Pak Tri juga ngasih bocoran, sekarang dinas akan rembukan lintas OPD (Organisasi Penanganan Dilema), supaya solusi ke depan lebih bijaksana: polisi tidur tetap ada, tapi ukurannya tidak lagi pakai standar ban truk.
“Kita belum bisa bicara ending-nya, Mas. Tapi targetnya, jangan ada lagi insiden ‘terbang rendah’ kayak kemarin,” pungkasnya.
Gareng Petruk mencatat, dari insiden ini ada pelajaran berharga:
Kalau mau bikin polisi tidur, ukurannya jangan sekadar pakai perasaan. Sebaiknya pakai logika, meteran, dan rasa kasihan pada shockbreaker motor rakyat jelata.
Karena jalanan itu tempat perjalanan, bukan arena uji nyali nasional.




















