JATINOM, garengpetruk klaten — Kalau biasanya orang ribut soal beda keyakinan, beda pilihan politik, atau beda selera sambal, malam Rabu (30/7) kemarin warga Jatinom malah ngumpul rukun ngopi bareng sambil sarasehan budaya.
Kegiatan ini digelar oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Klaten, bukan buat debat kusir apalagi gontok-gontokan, tapi justru buat ngademin hati, menyejukkan pikiran, dan menumbuhkan toleransi—pakai cara yang paling ‘ndeso’, paling ‘nusantara’, dan pastinya paling ngemong: budaya!
Acara yang dihelat di kecamatan Jatinom ini dihadiri berbagai tokoh lintas agama, pengurus FKUB & PKUB, dan para seniman budayawan. Lengkap! Dari yang pakai peci, salib, samir, sampek yang rambutnya dicat warna pelangi juga ada. Ini baru namanya pluralisme rasa wedang jahe—beragam tapi nyegerin!
Kerukunan Itu Bukan Teori, Tapi Praktik Harian
Ir. Wisnu Hendrata, MMR, yang selain insinyur juga pemerhati budaya, menyampaikan bahwa sarasehan ini adalah semacam “ruwatan spiritual”—bukan untuk buang sial, tapi buang prasangka.
“Sarasehan budaya bisa jadi wadah tukar-menukar nilai. Dari pada tukar bacotan di medsos, mending tukar cerita budaya yang adem,” ujar Pak Wisnu sambil merapikan sorban imajinernya.
Sementara KH. Syamsuddin Asyrofi, Ketua FKUB Klaten, menggarisbawahi pentingnya budaya sebagai tembok pertahanan. Tapi bukan tembok Berlin, melainkan tembok kekeluargaan.
“Kalau ada konflik karena beda agama dan budaya, itu bukan karena agama atau budayanya, tapi karena hatinya lagi panas. Nah, sarasehan ini semacam kipas angin rohani,” kata beliau.
Apem untuk Perdamaian Dunia? Bisa Banget!
Camat Jatinom, Agus Sunyoto, juga turut angkat bicara sambil nyengir senyum-senyum:
“Tanggal 8 Agustus 2025 nanti, kita gelar budaya sebar apem, lho! Bukan cuma bagi-bagi kue, tapi simbol berbagi berkah dan kasih sayang. Jadi jangan tanya, ‘apem buat apa?’ Jawabnya: apem buat damai!”
Bayangin, kalau dunia ini diguyur apem ketimbang bom, bisa-bisa perang dunia diganti festival kuliner.

Gebrakan: Kecamatan Sadar Kerukunan, Bukan Sekadar Stiker Mobil
Yang bikin acara ini makin bikin hati meleleh kayak keju di atas bakwan goreng, adalah pengukuhan Pengurus Kecamatan Sadar Kerukunan berbasis Budaya—pertama di Indonesia, lho! Bukan cuma slogan doang, tapi ada 13 komunitas budaya yang siap turun gunung buat nguri-uri kerukunan.
“Ini bukan program tempelan. Ini kolaborasi antara masyarakat sipil dan pemerintah. Kita mau tunjukin, Klaten bisa jadi laboratorium kerukunan nasional,” tegas KH Syamsuddin dengan aura karismatik ala tokoh anime.
Rencananya, para pengurus ini bakal bikin pelatihan, workshop, dan kegiatan budaya lainnya. Jadi kalau selama ini orang ikut workshop buat naik jabatan, ini workshop buat naikkan kadar toleransi dan empati.
Pesan Gareng & Petruk:
“Beda agama? Wajar. Beda budaya? Lumrah. Beda selera? Sah! Tapi jangan lupa, kita satu meja makan kalau lapar, dan satu panci rebus kalau harga cabe naik!”
Yuk, kita sarasehan tiap hari, dimulai dari rumah masing-masing. Jangan tunggu konflik datang, baru kita pasang baliho kerukunan.
Gareng Petruk: Menyindir dengan tawa, mengkritik dengan cinta.




















